Pagi itu, udara di Kompleks Sekolah Tinggi Teologi (STT) Makedonia Ngabang masih lembap oleh sisa hujan semalam. Namun di ruang utama kampus STT Makedonia Ngabang terlihat antusias mahasiswa dan kehangatan aktivitas di ruang kelas. Beberapa mahasiswa berdiri berpasangan, berlatih berbicara dengan nada pelan tapi tegas. Dari kejauhan terdengar kalimat yang sama berulang-ulang: “Jika kamu meninggal malam ini, apakah kamu tahu pasti akan ke surga?”
Itulah suasana tiga hari pelatihan Evangelism Explosion (EE) — sebuah metode penginjilan pribadi yang sudah dikenal di banyak gereja di dunia. Tim EE dari Pontianak datang bukan hanya untuk mengajar teori, tapi menanamkan keberanian. Mereka melatih mahasiswa bagaimana menyampaikan kabar baik dengan cara yang sederhana, jujur, dan menyentuh hati.
“Ini bukan soal hafalan,” kata seorang instruktur EE sambil tersenyum, “tetapi soal keberanian untuk membuka percakapan yang bisa mengubah hidup seseorang.”
Para mahasiswa STT Makedonia mendengarkan dengan saksama. Bagi beberapa dari mereka, ini pengalaman pertama berbicara langsung tentang iman kepada orang lain di luar gereja. Siang harinya, mereka turun ke lapangan — ke pasar, ke rumah warga, ke jalanan kecil di sekitar kampus. Di sana, teori berubah menjadi kenyataan.
Ada yang canggung di awal, ada yang sempat terdiam. Tapi ketika doa sudah dipanjatkan, kata-kata mulai mengalir. “Kami belajar bahwa menginjil bukan soal fasih berbicara, tapi soal hati yang mau melangkah,” ujar seorang mahasiswa, matanya berbinar. “Saya melihat sendiri bagaimana Tuhan bekerja melalui percakapan sederhana.”
Pelatihan EE ini, bagi STT Makedonia, lebih dari sekadar kegiatan kampus. Ia adalah bagian dari upaya membentuk hamba Tuhan yang utuh — berakar pada firman, berani bersaksi, dan siap diutus. “Mahasiswa kami tidak hanya dibekali teologi, tapi juga keberanian untuk turun langsung di tengah masyarakat,” kata salah satu dosen pembimbing.
Di hari terakhir, suasana ruang ibadah kecil di kampus terasa hangat. Para mahasiswa bergandengan tangan, menyanyikan lagu pujian. Beberapa di antara mereka meneteskan air mata — bukan karena lelah, tapi karena merasa telah menemukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pelatihan.
“Evangelism Explosion membuat kami sadar, Injil harus diberitakan, bukan disimpan,” kata seorang peserta. “Dan kami ingin menjadi bagian dari itu.”
Bagi STT Makedonia Ngabang, pelatihan ini adalah perpanjangan dari misinya: melatih, membentuk, dan mengutus. Dengan dukungan para Mitra Makedonia dan tim EE Pontianak, kampus ini terus mempersiapkan generasi muda yang siap melayani — bukan hanya di mimbar, tetapi di jalan, di desa, di mana pun Tuhan memanggil mereka.